Home » » MENOLAK BENCANA DENGAN RITUAL MENDHAK SANGGRING

MENOLAK BENCANA DENGAN RITUAL MENDHAK SANGGRING

Written By Unknown on Jumat, 21 Maret 2014 | 00.49



·  · Bookmark the permalink. ·


Warga Desa Tlemang, baru-baru ini punya gawe. Mereka melakukan ritual akbar Mendhak dan membuat  Sanggring  (Ratusan Ayam Dimasak dan Dibuat Dengan Bumbu Seadanya). Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Buyut Terik selaku penguasa Desa Tlemang.            Ritual Mendhak / Sanggring digelar setiap tanggal 24 sampai dengan 27 Djumadil Awal, atau tepatnya dimulai pada hari Sabtu, 6 April 2013, dan berakhir pada hari Selasa 9 April 2013 lalu. Sehari sebelumnya, segala persiapan dilakukan. Seluruh warga sekitar Desa Tlemang berikut Dusun Bakon, dan Dusun Wawu, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, semua ikut terlibat.Dihari Sabtu pagi 6 April 2013, seluruh warga Desa Tlemang, Dusun Bakon dan Dusun Wawuh, langsung mengelar acara Duduk Sendang ( Membersihkan sungai kecil yang ada pada area Makam Ki Buyut). Keesokan harinya pada hari Minggu, 7 April 2013 dilanjutkan dengan melaksanakan pembersihan Makam Ki Terik.
Dan pada hari Senin, 8 April 2013, digelar acara pertunjukan wayang selama 2 hari 2 malam. Malamnya dihari yang sama, semua berkumpul di rumah Kepala Desa Tlemang. Dia adalah Rasijan (56), yang juga sebagai juru kunci Makam Ki Buyut Terik. Sekitar pukul 19.00 WIB, warga tiga kampung itu berkumpul untuk membahas apa saja persiapan yang kurang.Disamping mempersiapkan peralatan untuk memasak sesaji Nyanggring, yang akan dipersembahkan saat puncak acara Mendhak di Makam Ki Buyut Terik. Warga dibagi ke dalam dua kelompok. Untuk tugas yang berat, dibahas oleh warga yang berusia muda. Sedangkan warga berusia tua atau diatas 60 tahun, hanya membahas tugas yang dirasa ringan.
“Semua pekerjaan untuk sesaji nyanggring harus disiapkan oleh kaum pria saja. Mulai mencari kayu, membuat tempat masak, sampai meracik bumbu hingga memasaknya,” kata Rasijan, selaku pemimpin persiapan ritual. Untuk bahan sesaji Nyanggring terbuat dari ratusan ekor ayam yang dipotongdan dimasak seadanya. Sedangkan bumbu-bumbunya adalah sumbangan dari masyarakat sekitar.“Semuanya bumbunya harus hasil bumi daerah sini saja. Tidak boleh dari luar daerah. Juga seluruh bumbu hasil sumbangan harus dimasak. Tidak boleh dikurangi dan ditambahi. Dan tidak boleh dicicipi sebelum dibawa  ke Makam Ki Buyut dan didoakan,” ujar Rasijan.Setelah semua telah persiapan telah selesai, sebahagian warga ada yang pulang kerumah masing-masing dan sebahagian lainnya menonton wayang. Mereka baru berkumpul kembali kerumah Rasijan, saat pagi hari untuk acara ritual.Pagi harinya, sekitar pukul 06.00, seluruh warga berkumpul kembali, dan mulai mengandakan penyembelihan ayam kampung yang jumlahnya ratusan. Semua tugas dikerjakan secara bergotong royong sesuai hasil pertemuan pada malam sebelumnya. Ada yang bertugas menyembelih, ada juga membeteti bulu, dan lain sebagainya. Setelah sesaji sayur Sanggring selesai dibuat sekitar pukul 15.00, beserta sesaji lain yang sebelumnya telah dipersiapkan, lantas dikirab menuju ke tengah persawahan dimana terletak Makam Ki Buyut Terik.
Pantangan Membangun Apa SajaSaat rombongan pengantar sesaji telah tiba di gerbang Makam, mereka menyempatkan untuk menggelar upacara lagi. Sebagai bentuk minta ijin kepada gaib penguasa penjaga pengawal makam. Setelah upacara permohonan ijin usai, rombongan yang dipimpin Rasijan kemudian melanjutkan masuk kedalam makamKiTerik.Saat itu, sesaji Nyanggring diletakkan dipelataran Makam. Disini selanjutnya dilakukan doa, yang ditujukan kepada arwah Ki Buyut, dan bangsa lelembut yang konon selama ini selalu menjadi pengawal setianya. Doa bertujuan untuk meminta keselamatan dan perlindungan, agar rakyat dan Negara selalu dihindarkan dari bencana. Doa ini merupakan penutupan dari rangkaian beberapa ritual sebelumnya.Dan setelah berdoa, maka ritual Mendhak Sanggring dianggap telah selesai. Warga tiga Desa yang berkumpul boleh meninggalkan tempat ritual. Namun sebelum itu, semua yang hadir juga diwajibkan mencicipi makanan bekas sesaji. Diyakini mereka yang ikut makan, makanan bekas sesaji sesudah didoakan ini, dapat terkabul apa yang diinginkan.Tak heran jika acara makan-makanan bekas sesaji berupa sayur Sanggring, seluruh yang hadir akan saling berebut. Tidak terkecuali beberapa pengunjung dari luar Desa tersebut. Sebab, meski hanya memakan sebahagian kecil, mereka percaya itu adalah syarat jika ingin harapan dan cita-cita dikabulkan.Menurut Kepala Dusun Bakon Mudjiono (60), sebenarnya ritual Sanggring memiliki makna yang luas. Tidak hanya sekedar memohon terhingar dari musibah atau bencana, tapi juga meminta agar rakyat diberi kesejahteraan. Simbol dari ritual ini sebagai penghormatan terhadap Ki Buyut Terik, yang mana atas jasa-jasanya Desa Tlemang dan sekitarnya dapat menjadi tempat subur dan aman sentosa.            “Juga selama bulan ini seluruh rakyat desa berpantangan, tidak boleh membangun rumah atau memperbaiki apa saja. Semisal pekarangan, rumah, dan lain sebagainya. Tapi yang pasti harus membangun atau membersihkan makam Ki Terik saja,” tandasnya.
 Tempat Ngalab BerkahSeiring waktu, karena seringnya dilakukan ritual Sanggring, maka Desa Tlemang mulai dikenal luas. Banyak masyarakat yang memanfaatkan Makam Ki Buyut untuk melakukan ritual ngalab berkah. “Bung Karno kesini mengambil pusaka tongkat. Malah sempat minta minum air putih pada Mbah saya kala itu. kalau Pak Imam sebelum dilantik menjadi Gubernur. Sewaktu terpilih Pak Imam mengadakan acara tumpengan disini,” ungkap Mudjiono.Konon banyak yang berhasi mencapai keinginannya setelah ritual ditempat ini. Mereka tidak hanya berasal dari Jawa Timur saja, tapi juga dari daerah-daerah lain. Bahkan sebahagian ada juga yang datang dari luar Pulau Jawa. Konon Presiden RI pertama yakni Bung Karno pun pernah kesini. Juga termasuk mantan Gubernur Ja-Tim, Imam Utomo, dan banyak lagi pejabat dari Jakarta. “Asalkan niatnya sungguh-sungguh, pasti berhasil. Apapun keinginan yang disampaikan, bisa diutarakan ditempat ini,” ujar galih (29), salah satu warga Desa Tlemang yang mengetahui persis keampuhan sawab Makam Ki Terik.Menurutnya, meski dikenal memiliki tuah yang dapat mengabulkan keinginan apapun, ada syarat tak tertulis yang harus dipatuhioleh siapa saja saat masuk kearea Makam Ki Terik. Syarat ini, konon tidak boleh dilanggar. Jika nekat, maka si pelanggar akan mengalami celaka.Tata tertib atau syarat yang harus diperhatikan, diantaranya setiap Bulan Jumadil awal tidak boleh masuk kearea makam sebelum dilaksanakan ritual Sanggreng. “Bahkan penah kejadian seorang pengunjung nekat masuk pada bulan tersebut sebelum acara Sanggreng dilakukan, akhirnya harus menderita gangguan jiwa, saat melanggar pantangan ini,” terang galih.
Pantangan lain adalah, dilarang berlaku tidak sopan, seperti berkata kotor, menghina atau menjelekkan Makam Ki Buyut, serta berlaku mesum. Beberapa kali peristiwa mengerikan dialami pengunjung yang melanggar pantangan-pantangan itu. Mereka tiba-tiba jatuh sakit, dan meninggal dunia tak lama kemudian.


“Dulu pernah ada tetangga sebelah yang kedatangan sanak kerabatnya dari Jakarta. Mereka datang sekeluarga. Lalu mereka meragukan kekuatan gaib di Makam Ki Terik. Begitu pulang dari sini, mereka langsung jauth sakit satu persatu, akhirnya meninggal dunia. Padahal mereka masih muda-muda,” jelas galih. ***

Share this article :

0 komentar:

Blogger templates

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Therky - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger